pembangunan

SEKRETARIAT

JL. Cipto Mangun Kusumo No. 1
Probolinggo - Jawa Timur

PHONE  +62 (0335) 432-024

Hits: 196

Cikal bakal gereja Kristen jawi wetan tidak lepas dari peranan Johanes Emde yang berprofesi sebagai tukang arloji bersama sang  istri yang bernama Amarentia Manuel pada tahun 1811. Mereka berdua tinggal di Surabaya.

 

Pekabaran ijil mereka di mulai ketika pendeta Bruckner utusan generasi pertama dari NZG (Badan pekabaran injil Belanda ke tanah Jawa ) menerjemahkan kitab suci Injil kedalam bahasa Jawa. Kemudian Johanes Emde bersama istrinya Amarentia berpandangan bahwa kitab injil terjemahan bahasa Jawa ini sangat layak untuk di sebarluaskan kepada orang – orang Jawa. Lewat perantara anak gadisnya ( namanya tidak disebutkan dalam sejarah ) maka sampailan alkitab terjemahan bahasa Jawa tersebut kepada pak Midan seorang Madura yang berprosesi sebagai penjual sarung keris dan tinggal di kampung Pegirikan Surabaya pada tahun 1826.

 

Karena pak Midan tidak bisa membaca maka alkitab terjemahan Jawa tersebut ( atau lebih tepatnya di sebut traktat ) di berikan kepada pak Dasimah. Pak Dasimah adalah seorang jawa yang tinggal di Wiyung Surabaya yang berprofesi sebagai modin desa.

 

Ia lantas berusaha mengerti apa isi dari traktat tersebut. Mereka merasa heran dan tertarik dengan tulisan pembukanya yang tertulis  kata “Putra Allah” dalam sebuah kalimat Purwane Evangelion Saking Yesus Kristus Putrane Allah (“Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah”). Ternyata yang sedang mereka baca adalah terjemahan Injil Markus. Meski tidak mengerti, mereka terus berusaha menggumuli ‘buku aneh’ tersebut. “Apakah mungkin Allah yang Esa memiliki anak ?”. Pikir mereka. Suatu pengertian yang sangat bertolak belakang dengan kepercayaan yang mereka miliki pada saat itu. “Ilmu baru apakah ini ?”. Pikir mereka lagi.

 

***

Pada saat hampir bersamaan seorang keturunan Jawa Rusian kelahiran Semarang bernama Coenraad Laurens Coolen yang berprofesi sebagai sinder blandong ( pengawas kehutanan belanda ). Ia seorang Kristen yang taat, tetapi ia juga saat erat pergaulannya dengan penduduk desa. Itulah yang membuat dia sangat paham dengan tradisi jawa ( istilah dulu ngelmu jawa ).

 

Pada 1827 Coolen berhenti dari jabatan sebagai sinder blandong dan meminta izin membuka hutan di Ngoro (sebelah selatan Jombang). Beberapa lama kemudian tempat itu menjadi sangat ramai dan Coolen menjadi pemimpin baru di tempat itu. Pada waktu itulah ia juga menerjemahkan Pengakuan Iman Rasuli, 10 Hukum, dan Doa Bapa Kami kedalam bahasa Jawa.

 

Sekitar tahun  1833 kyai Kunti yang tinggal di desa Wonokuli dekat dengan desa Wiyung melangsungkan upacara perkawinan. Kyai Kunti sendiri sering bepergian ke desa Ngoro dan tinggal beberapa bulan di sana. Dalam acara itu, hadir juga Pak Sadimah, salah seorang sahabat Pak Dasimah yang sering mengikuti perkumpulan di Wiyung untuk membicarakan ngelmu baru Injil Markus.

 

Dalam Acara tersebut Kyai Kunti  melafalkan Pengakuan Iman Rasuli dan doa - doa dalam bahasa Jawa terjemahan Coolen.  Pak Sadimah mendengar bahwa dalam doa-doa itu disebut nama Yesus Kristus, Anak Allah, sama dengan yang mereka pelajari selama ini. Ia mendengar ada kesamaan antara doa yang diucapkan oleh Kyai Kunthi dengan buku yang ia pelajari.

 

Kejadian itu lalu diceritakan kepada Pak Dasimah. Bukan main senangnya ia. Kemudian, bersama kawan-kawannya mereka berangkat ke Ngoro untuk mendengar langsung pengajaran dari Coolen. Oleh Kyai Kunthi mereka diperkenalkan kepada Ditotruno, seorang pembantu Coolen yang mengurusi Desa Ngoro, sebelum akhirnya mereka bertemu langsung dengan Coolen sendiri.

 

Coolen sangat heran melihat kegigihan orang-orang Jawa asal Wiyung ini, karena mereka harus berjalan kaki selama 25 jam lamanya. Sejak itu rombongan dari Wiyung berguru kepada Coolen tentang agama Kristen selama beberapa bulan. Namun mengingat perjalanannya yang lama dan medan yang sulit juga biaya yang tidak sedikit, mereka hanya bisa berguru setahun sekali selama 5 tahun . Sekembalinya mereka ke Wiyung, mereka mengadakan kebaktian setiap hari Minggu, seperti pengajaran yang diberikan Coolen.

 

***

Pada tahun antara 1840-1841, anak pak Dasimah yang bekerja sebagai pemotong rumput menawarkan rumputnya ke rumah Johanes Emde. Oleh istri Johanes Emde, ia ditanya tentang berbagai hal hingga membuatnya yakin bahwa anak pak Dasimah ini memiliki pengetahuan yang lebih tentang agama kristen. Oleh karena itu Emde dan istrinya berniat mengundang orang tuanya.

 

Pada akhirnya terjadi juga pertemuan antara keluarga Johanes Emde dan keluarga pak Dasimah. Selanjutnya Johanes Emde juga mengunjungi orang - orang Kristen di Wiyung. Johanes Emde juga memberikan mengajaran tentang agama Kristen, salah satunya tentang babtisan, dan itu yang tidak mereka dapatkan waktu belajar di Ngoro.

 

Kemudian dengan penuh keyakinan, orang-orang Wiyung ini menghadap Emde agar diperkenankan mengikuti sakramen Baptis, karena mereka sudah percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan sudah merasa sebagai orang Kristen.

 

Akhirnya Johanes Emde memperkenalkan mereka dengan AW Meyer, pendeta yang menggembalakan jemaat Belanda di kota Surabaya. Kemudian pada tanggal 12 Desember 1843, sebanyak 35 orang (18 laki-laki, 12 wanita dan 5 orang anak) menerima sakramen pembabtisan. Tanggal inilah yang pada tahun 1993 lalu diperingati sebagai hari I baptisan cikal bakal GKJW.

 

Setelah peristiwa itu pak Dasimah dan kawan-kawan nya berkunjung kembali ke Ngoro dan meminta penjelasan tentang baptisan kepada Coolen. Sebenarnya Coolen tidak menghendaki adanya babtisan pada orang Jawa. Ia khawatir dengan adanya baptisan itu mereka menjadi sombong dan merasa dirinya sama dengan orang Belanda.

 

Oleh karena itu Coolen marah setelah mengetahui bahwa mereka telah dibaptis. Pak Dasimah dan para sahabatnya diusir dan dilarang tinggal di Ngoro lagi. Tetapi sebelum pergi mereka berdiskusi membicarakan hal itu dengan saudara-saudara di Ngoro. Beberapa orang di antaranya kemudian mengikuti jejak Pak Dasimah dan kawan-kawan untuk mendapatkan baptisan. Salah seorang di antaranya adalah Ditotruno yang kala itu sebagai pembantu Coolen. Ditotruno pun mengalami peristiwa yang sama, ia diusir dari Ngoro.

 

Ditotruno pun dibabtis dan di beri nama babtis Kyai Abisa. Kemudian dia mengikuti Jejak tuannya membuka hutan sendiri yaitu hutan Dagangan sebelah utara desa Ngoro jaraknya kira – kira 10 km. Setelah hutan Dagangan berhasil di buka banyak orang yang tertarik tinggal di sana. Semakin lama semakin berkembang pesat, dan nama Dagangan di ganti dengan nama Mojowarno karena letaknya yang dekat dengan peninggalan kerajaan Mojopahit.

 

Karena orang – orang kristen jumlahnya semakin banyak dan tersebar kemana mana maka di bentuklah pasamuwan - pasamuwan ( jemaat ). Kemudian pada tanggal 11 Desember 1931 di bentuklan penggabungan pasamuwan – pasamuwan ( jemaat ) dalam sebuah persekutuam grejawi yang bernama Oost Javaansche Kerk (Pasamuwan-pasamuwan Kristen ing tanah Djawi Wetan) atau sekarang bisa kita sebut Greja Kristen Jawi Wetan ( GKJW ).

 

Sumber : www.gkjw.or.id

Copyright © 2018, GKJW Probolinggo. All Rights Reserved.

Design by: GKJW Probolinggo