pembangunan

SEKRETARIAT

JL. Cipto Mangun Kusumo No. 1
Probolinggo - Jawa Timur

PHONE  +62 (0335) 432-024

  E-MAIL  [email protected]

" MEMBERI DAN MENJAGA MARTABAT SESAMA" oleh Pdt. Patria Yusak

Keinginan menjadi mandiri adalah sesuatu yang wajar dan alamiah. Sebagian besar dari kita tidak nyaman meminjam atau meminta/mengambil milik orang lain. Lebih baik memiliki sendiri atau membuat sendiri sesuatu yang kita perlukan. Namun demikian, karena suatu kondisi buruk, kita mendapati suatu keadaaan dimana seseorang harus menjadi penerima kebaikan dari orang lain.

Lanjut baca

AGENDA KEGIATAN

HUT GKJW PROBOLINGGO KE 85

Pada hari minggu tanggal 17 Maret 2019 GKJW Probolinggo merayakan hari ulang tahun yang ke 85

Lanjut baca

HARI RAYA PERSEMBAHAN 2019

Trimakasih kepada warga jemaat GKJW Probolinggo

Lanjut baca

PELEPASAN DAN PELANTIKAN PENETUA DAN DIAKEN

Pelepasan Penetua dan Diaken masa bakti 2016-2018

Lanjut baca

KEGIATAN PHBG DESEMBER 2018

1. Sabtu, 08 Desember 2018 a. Jam 06:00 - 08:00. kerja bakti di

Lanjut baca

Masyarakat Jawa sejak dahulu kala dikenal dengan tradisi agrarisnya, dan adat-istiadat asli. Ketika para founding father desa Mojowarno yang penganut agama Kristen sebagai perintis membuka hutan pelopor di Jawa Timur, mereka membuka hutan dan mengelola lahan pertanian, maka mau tidak mau mereka harus menyesuaikan tradisi agraris yang dipengaruhi tradisi jawa pada saat itu, dengan agama yang mereka anut. Misalnya penghormatan kepada Dewi Sri, harus disesuaikan dengan dogma dan ajaran Kristen. Oleh karena itu, mereka meletakkan dasar-dasar baru dalam tradisi dan adat-istiadat Kristen di Jawa Timur.

Pada tahun 1923 jemaat GKJW Mojowarno didewasakan di bawah pimpinan pendeta Drio Mestoko. Jemaat diberi kebebasan untuk mengurusi diri sendiri, diantaranya: usaha untuk mencukupi kebutuhan sendiri, mengatur pelaksanaan perjalanan kehidupan jemaat untuk mencapai perkembangannya. Pada waktu itu para jemaat yang kebanyakan terdiri dari petani dan sebagian kecil menjadi pegawai. Dalam melaksanakan pekerjaan pertanian juga dipengaruhi oleh adat istiadat nenek moyang, meskipun dalam pelaksanaannya diselaraskan dengan iman Kristen. Salah satu tradisi Jawa yang telah diselaraskan dengan kekristenan dan dirayakan setiap tahunnya adalah Hari Raya Undhuh-Undhuh. Tradisi Undhuh-Undhuh pertamakali dimulai di Mojowarno sekitar tahun 1930.

 

Secara teologis, Hari Raya Undhuh-Undhuh sendiri didasarkan pada ajaran Nabi Musa kepada bangsa Israel pada waktu menuai hasil panennya yang pertama seperti yang tertulis dalam kitab Ulangan 26:1,2. Di mana inti ajarannya adalah ketika bangsa Israel menempati tanah pusaka leluhurnya Abraham, hendaknya mereka memberikan persembahan hasil panen pertamanya yang terbaik.

 

Adapun kata Undhuh-Undhuh diambil dari bahasa Jawa Undhuh yang berarti memetik. Makna dari Hari Raya Undhuh-Undhuh untuk masyarakat Kristen di Mojowarno adalah, “mempersembahkan sebagian dari hasil kerjanya dengan kerelaan hatinya kepada Tuhan”. Yang mana inti dari perayaan udhuh-undhuh itu sendiri adalah sebagai wujud pernyataan syukur atas kelimpahan berkat yang diterima dari Tuhan, sekaligus untuk lebih meningkatkan pengelolaan tanah sawah dimana kalau masih ada kekurangannya untuk pekerjaan yang akan datang.