pembangunan

SEKRETARIAT

JL. Cipto Mangun Kusumo No. 1
Probolinggo - Jawa Timur

PHONE  +62 (0335) 432-024

  E-MAIL  gkjwpro@gmail.com

Hits: 207

Keinginan menjadi mandiri adalah sesuatu yang wajar dan alamiah. Sebagian besar dari kita tidak nyaman meminjam atau meminta/mengambil milik orang lain. Lebih baik memiliki sendiri atau membuat sendiri sesuatu yang kita perlukan. Namun demikian, karena suatu kondisi buruk, kita mendapati suatu keadaaan dimana seseorang harus menjadi penerima kebaikan dari orang lain. Dan reaksi umumnya mereka yang mengalami ini adalah merasa malu dan menjadi rendah diri. Kita harus peka terhadap dinamika hubungan antara pemberi dan penerima kebaikan.

      Kata Alkitab untuk tindakan memberi kepada yang membutuhkan disebut dengan Tzedakah, memang biasanya diterjemahkan dengan sedekah, amal atau derma. Tetapi lebih tepatnya berarti “keadilan”. Allah memilih orang-orang tertentu sebagai alat melimpahkan karunia-Nya kepada orang lain supaya terwujud keadaan seimbang/setara. Jadi ketika seseorang dalam posisi dapat membantu sesamanya, dia tidak bertindak altruis dengan memberikan sesuatu yang menjadi haknya, tetapi dia melakukan keadilan karena dia memberikan/menyalurkan milik Allah yang dipercayakan kepadanya seperti yang Allah kehendaki.

      Meskipun kita umumnya mengasosiasikan amal, sedekah atau derma dengan memberikan uang (=receh/kecil), tindakan ini sebenarnya meliputi segala bentuk kebaikan hati: meringankan beban berat psikologis seseorang, menghibur, atau berbagi pengetahuan dan wawasan. Apapun bentuknya pemberian bantuan/kebaikan, seseorang yang melakukannya tetap berusaha menjaga kehormatan atau harga diri dari penerima sebagai sasaran sedekah.

Delapan tingkat memberi

      Berkaitan dengan sensitivitas perasaaan penerima bantuan yang perlu dijaga dan tetap bermartabat, seorang bijak pernah mengajarkan delapan tingkat dalam memberikan sedekah atau bantuan kepada orang lain khususnya bantuan materi.

  1. Tingkat Delapan: Memberi sedikit dengan berat hati dan menunjukkan wajah masam.

Memberi dengan berat hati memang lebih baik dari pada tidak memberi sama sekali. Disebutkan sebagai tingkat pemberian terendah karena seseorang dalam memberikan masih bersifat egois -tidak dimotivasi oleh kepedulian atau cinta melainkan rasa bersalah atau karena itu adalah suatu kewajiban. Hendaknya setiap pemberian bantuan disertai dengan kata-kata hangat dan penuh kelembutan.

  1. Tingkat Tujuh: Memberikan sedikit dari yang diminta, namun dilakukan dengan senyum yang ramah.

Tindakan pemberi yang demikian ini membuat pencari bantuan segan dan memaklumi bila mana donatur hanya dapat memberikan sedikit dari yang dibutuhkan. Ekspresi tulus dan empati dapat memberikan kepuasan emosional dan mampu menggerakkan pergi seseorang yang meminta bantuan, meski donatur  tidak mampu atau bersedia mengabulkan permintaannya sepenuhnya.

  1. Tingkat Enam: Memberikan dengan murah hati, tetapi hanya setelah diminta.

Baru menolong sesudah orang lain datang mengiba pertolongan memang masih baik dari pada membuang muka (melengos) kepada mereka yang jelas-jelas mendekati kita dan berharap dari kita. Kita tidak pernah tahu betapa beban psikologis yang mereka tanggung, canggung dan minder dari mereka yang meminta bantuan, dan tentunya ekspresi putus asa mereka ketika calon pemberi yang mereka andalkan menanggapi dingin permintaannya.

Pada masyarakat individualis dan egois, tindakan peduli kepada orang lain disebut kebodohan dan belas kasihan adalah suatu tanda kelemahan hati, dimana membiarkan orang lain dapat memanipulasi tindakan kita.

Jangan membatasi keterlibatan kepada mereka yang mendekat, itulah kesempatan yang membuat kita berbeda dengan yang lainnya.

  1. Tingkat Lima: Memberikan sebelum orang lain memintanya.

Belajar untuk mengantisipasi kebutuhan orang lain bahkan sebelum mereka mendekati kita. Ini perlu latihan kepekaan khusus. Tidak menunggu seseorang mencelakai diri sendiri atau berteriak-teriak dikasihani karena dia tidak juga melihat uluran tangan menolongnya. Jika kita jujur ​​dengan diri kita sendiri kita selalu dapat menemukan cara untuk membantu orang lain, atau setidaknya merujuk mereka ke orang lain yang bisa menolongnya

  1. Tingkat Empat: Penerima tahu si pemberi, tapi si pemberi tidak tahu penerima.

Di tingkat lima sampai delapan, penerima dan pemberi keduanya saling mengetahui satu sama lain. Begitu pun saat pemberian dilakukan dengan penuh perasaan dan kebahagiaan untuk membantu, mereka adalah gambaran hubungan superioritas: ego si pemberi adalah bersyukur, dan penerima merasa malu dan rendah diri karena ketergantungan. Ini sebagian diperbaiki dalam bentuk sedekah yang menempati Tingkat Empat ': memberi dilakukan sedemikian rupa dimana penerima menyadari identitas dermawan, tapi tetap anonim kepadanya. 

Dalam hal ini, pemberi (donor) terasa lebih rendah hati, karena ia tidak menyadari kepada siapa dia memberikan. Namun, perasaan penerima tidak luput pada tingkat yang sama, karena dia tahu yang memberinya sedekah.

  1. Tingkat Tiga: Si pemberi tahu penerima, tetapi penerima tidak tahu si pemberi.

Dalam tingkat sedekah ini- yang merupakan kebalikan dari Tingkat Empat - ego pemberi diberi ruang untuk mengekspresikan dirinya. Sejak pemberi tahu siapa yang menerima bantuannya, ada ruang untuk beberapa rasa superior atau dominasi atas penerima. Namun, penerima tidak menyadari yang siapa si pemberi, sehingga martabatnya tetap terjaga.

  1. Tingkat Dua: Memberikan anonim, di mana penerima tidak tahu pemberi dan sebaliknya.

Pemberi dan penerima bantuan sama-sama tidak mengenal (anonim) memerlukan beberapa tahapan dan waktu lebih lama untuk suatu bantuan sampai ke tangan penerima. Tetapi hal ini Hal ini jauh lebih baik ketika kita memberikan atau meminjamkan sesuatu kepada orang lain secara tidak sadar - ego kita bergabung dengan mereka, dan tidak sadar memilih status berada di posisi tinggi atau lebih rendah.

Karena itulah badan amal dan yayasan sosial atau LSM yang didirikan, benar-benar dikelola oleh individu atau kelompok yang memiliki integritas kejujuran dan hikmat, dengan dasar sukarela untuk mengumpulkan dan mendistribusikan dana amal, derma, sedekah kepada mereka yang membutuhkan dengan cara yang baik dan bermartabat.

  1.  Tingkat Pertama: Membantu seseorang menjadi mandiri.

Kebutuhan yang paling dasar dari manusia adalah untuk merasa dibutuhkan dan mandiri. Dengan demikian, bentuk tertinggi dari sedakah adalah untuk membantu seseorang mencari pekerjaan atau mengatur mereka dalam berwirausaha. Ini mempertahankan martabat mereka, dan pada saat yang sama mengubah mereka dari menjadi penerima menjadi sederajat/setara dengan yang lainnya.

Demikian pula, jika Anda berada dalam posisi untuk menasehati atau memberikan saran kepada seseorang, penting untuk menanamkan dalam diri mereka rasa percaya diri dalam kemampuan mereka sendiri untuk menemukan solusi untuk dilema mereka, dan bahkan dapat menjadi sumber kekuatan untuk orang lain.

      “Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu”, jika kita mengingat kata-kata ini. Dalam perjalanan hidup, kita menghadapi banyak situasi ketika kita begitu tergantung pada kebaikan dan kemurahan hati orang lain untuk dapat melalui masa-masa sulit. Tindakan kita memperlakukan orang lain pada waktu mereka sangat membutuhkan pertolongan sering menentukan arah nasib kita selanjutnya manakala kita mengalami hal serupa

Sedekah adalah siklus – hadiah yang kita berikan kepada orang lain akhirnya kan kembali kepada kita. Oleh kemurahan Allah.

“Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” (Ams 3:27 )


OLEH : PDT. PATRIA YUSAK

 

Copyright © 2018, GKJW Probolinggo. All Rights Reserved.

Design by: GKJW Probolinggo