pembangunan

SEKRETARIAT

JL. Cipto Mangun Kusumo No. 1
Probolinggo - Jawa Timur

PHONE  +62 (0335) 432-024

  E-MAIL  gkjwpro@gmail.com

Keinginan menjadi mandiri adalah sesuatu yang wajar dan alamiah. Sebagian besar dari kita tidak nyaman meminjam atau meminta/mengambil milik orang lain. Lebih baik memiliki sendiri atau membuat sendiri sesuatu yang kita perlukan. Namun demikian, karena suatu kondisi buruk, kita mendapati suatu keadaaan dimana seseorang harus menjadi penerima kebaikan dari orang lain. Dan reaksi umumnya mereka yang mengalami ini adalah merasa malu dan menjadi rendah diri. Kita harus peka terhadap dinamika hubungan antara pemberi dan penerima kebaikan.

      Kata Alkitab untuk tindakan memberi kepada yang membutuhkan disebut dengan Tzedakah, memang biasanya diterjemahkan dengan sedekah, amal atau derma. Tetapi lebih tepatnya berarti “keadilan”. Allah memilih orang-orang tertentu sebagai alat melimpahkan karunia-Nya kepada orang lain supaya terwujud keadaan seimbang/setara. Jadi ketika seseorang dalam posisi dapat membantu sesamanya, dia tidak bertindak altruis dengan memberikan sesuatu yang menjadi haknya, tetapi dia melakukan keadilan karena dia memberikan/menyalurkan milik Allah yang dipercayakan kepadanya seperti yang Allah kehendaki.

      Meskipun kita umumnya mengasosiasikan amal, sedekah atau derma dengan memberikan uang (=receh/kecil), tindakan ini sebenarnya meliputi segala bentuk kebaikan hati: meringankan beban berat psikologis seseorang, menghibur, atau berbagi pengetahuan dan wawasan. Apapun bentuknya pemberian bantuan/kebaikan, seseorang yang melakukannya tetap berusaha menjaga kehormatan atau harga diri dari penerima sebagai sasaran sedekah.

Delapan tingkat memberi

      Berkaitan dengan sensitivitas perasaaan penerima bantuan yang perlu dijaga dan tetap bermartabat, seorang bijak pernah mengajarkan delapan tingkat dalam memberikan sedekah atau bantuan kepada orang lain khususnya bantuan materi.

  1. Tingkat Delapan: Memberi sedikit dengan berat hati dan menunjukkan wajah masam.

Memberi dengan berat hati memang lebih baik dari pada tidak memberi sama sekali. Disebutkan sebagai tingkat pemberian terendah karena seseorang dalam memberikan masih bersifat egois -tidak dimotivasi oleh kepedulian atau cinta melainkan rasa bersalah atau karena itu adalah suatu kewajiban. Hendaknya setiap pemberian bantuan disertai dengan kata-kata hangat dan penuh kelembutan.

  1. Tingkat Tujuh: Memberikan sedikit dari yang diminta, namun dilakukan dengan senyum yang ramah.

Tindakan pemberi yang demikian ini membuat pencari bantuan segan dan memaklumi bila mana donatur hanya dapat memberikan sedikit dari yang dibutuhkan. Ekspresi tulus dan empati dapat memberikan kepuasan emosional dan mampu menggerakkan pergi seseorang yang meminta bantuan, meski donatur  tidak mampu atau bersedia mengabulkan permintaannya sepenuhnya.

  1. Tingkat Enam: Memberikan dengan murah hati, tetapi hanya setelah diminta.

Baru menolong sesudah orang lain datang mengiba pertolongan memang masih baik dari pada membuang muka (melengos) kepada mereka yang jelas-jelas mendekati kita dan berharap dari kita. Kita tidak pernah tahu betapa beban psikologis yang mereka tanggung, canggung dan minder dari mereka yang meminta bantuan, dan tentunya ekspresi putus asa mereka ketika calon pemberi yang mereka andalkan menanggapi dingin permintaannya.

Pada masyarakat individualis dan egois, tindakan peduli kepada orang lain disebut kebodohan dan belas kasihan adalah suatu tanda kelemahan hati, dimana membiarkan orang lain dapat memanipulasi tindakan kita.

Jangan membatasi keterlibatan kepada mereka yang mendekat, itulah kesempatan yang membuat kita berbeda dengan yang lainnya.

  1. Tingkat Lima: Memberikan sebelum orang lain memintanya.

Belajar untuk mengantisipasi kebutuhan orang lain bahkan sebelum mereka mendekati kita. Ini perlu latihan kepekaan khusus. Tidak menunggu seseorang mencelakai diri sendiri atau berteriak-teriak dikasihani karena dia tidak juga melihat uluran tangan menolongnya. Jika kita jujur ​​dengan diri kita sendiri kita selalu dapat menemukan cara untuk membantu orang lain, atau setidaknya merujuk mereka ke orang lain yang bisa menolongnya

  1. Tingkat Empat: Penerima tahu si pemberi, tapi si pemberi tidak tahu penerima.

Di tingkat lima sampai delapan, penerima dan pemberi keduanya saling mengetahui satu sama lain. Begitu pun saat pemberian dilakukan dengan penuh perasaan dan kebahagiaan untuk membantu, mereka adalah gambaran hubungan superioritas: ego si pemberi adalah bersyukur, dan penerima merasa malu dan rendah diri karena ketergantungan. Ini sebagian diperbaiki dalam bentuk sedekah yang menempati Tingkat Empat ': memberi dilakukan sedemikian rupa dimana penerima menyadari identitas dermawan, tapi tetap anonim kepadanya. 

Dalam hal ini, pemberi (donor) terasa lebih rendah hati, karena ia tidak menyadari kepada siapa dia memberikan. Namun, perasaan penerima tidak luput pada tingkat yang sama, karena dia tahu yang memberinya sedekah.

  1. Tingkat Tiga: Si pemberi tahu penerima, tetapi penerima tidak tahu si pemberi.

Dalam tingkat sedekah ini- yang merupakan kebalikan dari Tingkat Empat - ego pemberi diberi ruang untuk mengekspresikan dirinya. Sejak pemberi tahu siapa yang menerima bantuannya, ada ruang untuk beberapa rasa superior atau dominasi atas penerima. Namun, penerima tidak menyadari yang siapa si pemberi, sehingga martabatnya tetap terjaga.

  1. Tingkat Dua: Memberikan anonim, di mana penerima tidak tahu pemberi dan sebaliknya.

Pemberi dan penerima bantuan sama-sama tidak mengenal (anonim) memerlukan beberapa tahapan dan waktu lebih lama untuk suatu bantuan sampai ke tangan penerima. Tetapi hal ini Hal ini jauh lebih baik ketika kita memberikan atau meminjamkan sesuatu kepada orang lain secara tidak sadar - ego kita bergabung dengan mereka, dan tidak sadar memilih status berada di posisi tinggi atau lebih rendah.

Karena itulah badan amal dan yayasan sosial atau LSM yang didirikan, benar-benar dikelola oleh individu atau kelompok yang memiliki integritas kejujuran dan hikmat, dengan dasar sukarela untuk mengumpulkan dan mendistribusikan dana amal, derma, sedekah kepada mereka yang membutuhkan dengan cara yang baik dan bermartabat.

  1.  Tingkat Pertama: Membantu seseorang menjadi mandiri.

Kebutuhan yang paling dasar dari manusia adalah untuk merasa dibutuhkan dan mandiri. Dengan demikian, bentuk tertinggi dari sedakah adalah untuk membantu seseorang mencari pekerjaan atau mengatur mereka dalam berwirausaha. Ini mempertahankan martabat mereka, dan pada saat yang sama mengubah mereka dari menjadi penerima menjadi sederajat/setara dengan yang lainnya.

Demikian pula, jika Anda berada dalam posisi untuk menasehati atau memberikan saran kepada seseorang, penting untuk menanamkan dalam diri mereka rasa percaya diri dalam kemampuan mereka sendiri untuk menemukan solusi untuk dilema mereka, dan bahkan dapat menjadi sumber kekuatan untuk orang lain.

      “Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu”, jika kita mengingat kata-kata ini. Dalam perjalanan hidup, kita menghadapi banyak situasi ketika kita begitu tergantung pada kebaikan dan kemurahan hati orang lain untuk dapat melalui masa-masa sulit. Tindakan kita memperlakukan orang lain pada waktu mereka sangat membutuhkan pertolongan sering menentukan arah nasib kita selanjutnya manakala kita mengalami hal serupa

Sedekah adalah siklus – hadiah yang kita berikan kepada orang lain akhirnya kan kembali kepada kita. Oleh kemurahan Allah.

“Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” (Ams 3:27 )


OLEH : PDT. PATRIA YUSAK

 

Roma 12:9-20-21


Setiap orang yang percaya kepada Yesus dipanggil untuk melayani pekerjaan Tuhan. Pekerjaan yang dipercayakan kepada setiap kita beragam sesuai dengan panggilan kita masing-masing. Orang-orang yang dilayani juga berbeda sifat dan karakter. Oleh karena itu dibutuhkan sikap yang sesuai alkitab untuk menunjang pelayanan agar pelayanan dapat berhasil dan berdampak. 

Sikap yang harus dimiliki:

1. Memiliki sikap mengasihi (ay.9-10)
Mengasihi adalah syarat utama dalam melayani pekerjaan Tuhan. Setiap orang bisa melayani, namun pelayanan yang tidak dibarengi dengan sikap mengasihi tidak mungkin memuliakan Tuhan dan berdampak untuk orang lain. 

2. Memiliki semangat (ay.11)
Melayani Tuhan bukan berarti bebas dari permasalahan. Namun semakin melayani dengan baik maka semakin banyak rintangan yang datang; dari dalam (keluarga) maupun dari luar (jemaat, rekan sekerja) yang sering kali dapat melemahkan. Oleh karena sadar ada rintangan dan halangan maka sikap yang harus diambil adalah tetap bersemangat. Semangat merupakan bahan pengerak untuk terus maju. 

3. Memilki ketabahan dalam kesesakan (ay.12)
Ada kalanya Tuhan ijinkan ketika kita melayani dengan setia, namun hidup dalam kekurangan, mengalami sakit penyakit, tidak dihargai pelayanan yang kita lakukan baik oleh orang lain maupun jemaat sendiri. Dibutuhkan ketabahan dalam mengatasi masa-masa sukar. Ketabahan adalah kunci untuk dapat melangkah maju meskipun terasa sukar dan berat. 

4. Memiliki kemurahan hati (ay.13)
Kemurahan hati sama dengan memiliki hati yang berbelas kasihan kepada orang lain. Membuka tangan bagi yang membutuhkan dan tidak menutup mata kepada kesusahan orang lain. 

5. Memberkati dikala disakiti (ay.14)
Kecendrungan kita sebagai manusia adalah membalas setiap perlakuan yang tidak menyenangkan. Namun ketika kita memilih sebagai pelayan Tuhan maka kita harus melepaskan hak kita untuk membalas. Hal ini dikarenakan pembalasan itu adalah haknya Tuhan.

Menahan diri...
Bukan hanya sabar dan tabah menanggung sakit dan derita.
Tetapi lebih sabar dan tidak tergesa-gesa menilai orang lain bahkan menghakimi mereka karena sebuah sikap atau tindakan yang belum atau tidak dapat dipahami dari orang tersebut.

Pengetahuan tidak sama dengan kebenaran, meskipun hal tersebut juga penting diterima. Kita tidak mengerti dan memahami sepenuhnya apa yang melatar belakangi dan menjadi motivasi dari tindakan seseorang yang kemudian dapat disalah pahami dan disalahartikan.

Memasuki masa pra paskah kita kita diajak untuk menghayati rancana dan karya penyelamatan Allah dalam Tuhan Yesus Kristus yang tidak dimengerti dan bahkan disalahpahami oleh murid-murid dan orang banyak. Kebaikan dan cinta kasih bahkan derita dan jalan sengsara Kristus yang ditolak oleh manusia.

JIka tidak mengerti mintalah dengan rendah hati hikmat (Yak 1:5). sebuah ketulusan dari hati yang baik dapat menjadi hal yang sia-sia bahkan menjadi pertentangan bila mana yang menerima kebaikan dipenuhi prasangka buruk dan kebencian.

Bantulah mereka yang berkendak baik menolong sesamanya untuk dapat mengungkapkan dengan tepat kebaikan hatinya kepada orang-orang yang ia cintai.

jadilah teman dan sahabat bagi mereka yang disisihkan atau diabaikan bahkan diolok-olok karena apa yang mereka tidak dapat mengungkapkan atau menemukan cara yang baik untuk menyatakan ketulusan kasih mereka kepada sesamanya.

Bersabarlah dan jadilah kuat terhadap kelemahan dan kekurangan orang lain sebab demikian Kristus memberi kemurahan dan bersabar atas kelemahan dan kekurangan kita sampai kita menemukan pintu pengampunan dan mengenal kebenaran. (Mat 18:15)

Berhentilah untuk tidak meneruskan apa yang membuat orang lain semakin terluka dan dihakimi. Mari belajar membalut dan mengobati luka-luka bathin mereka demi sebuah kehidupan dan relasi dengan sesama yang lebih baik di masa depan.

 

OLEH : PDT. PATRIA YUSAK

Copyright © 2018, GKJW Probolinggo. All Rights Reserved.

Design by: GKJW Probolinggo